27 Nov 2011 By: Gede Astawan

Jalan-jalan ke Lembah Batur - Kintamani Bangli

Wah, hari yang cerah bertepatan dengan hari Banyu Pinaruh, yakni sehari setelah perayaan Saraswati. Cuaca yang sejuk memanjakan saya untuk sedikit menutup mata meski rona mentari mulai menerangi awing-awang mimpi.

Tiba-tiba saja telepon berbunyi, ternyata saya dibangunkan lagi oleh rencana saya untuk melakukan perjalanan tour sekali lagi oleh teman saya. Beranjak mandilah saya segera, sambil keramas untuk membersihkan diri seperti ritual Banyu Pinaruh biasanya, meski kali ini saya tidak ke pancuran terdekat, namun aroma pancoran itu saya resapkan dalam hati saja di pancoran kamar mandi.

Segera setelah siap untuk bersembahyang pagi, lebih dulu saya didatangi oleh si Ketut yang rencananya saya yang menjemput beliau. Ya, saya persilakan saja dia untuk menunggu persembahyangan saya pada pemujaan Banyu Pinaruh pagi itu, dan selesai bersembahyang kita lalu berangkat menuju tujuan kami yakni Desa Pinggan.

Rencana ini muncul setelah saya sempat membaca artikel tentang salah satu pura Kahyangan Jagat yang ada di Bangli yaitu Pura Dalem Balingkang. Jadi, yang pertamanya saya hanya ingin mengetahui lokasi dan keadaan pura, jadi tidak mempersiapkan sarana persembahyangan berupa kamben dan senteng.

Route yang kami lalui adalah route pegunungan mulai dari Sangeh, keutara melewati Jembatan Tukad Bangkung di Plaga, Puncak Penulisan, dan tepat disebelah pura ada jalan menuju Desa Pinggan dan melewati Desa Sukawana. Sebelumnya saya sempat singgah di Desa Lampu untuk sekedar mengisi perut karena memang sedari tadinya kami belum sarapan. Nah, kembali pada perjalanan di tengah desa Sukawana memang alamnya sangat asri. Banyak pohon-pohon besar yang masih sangat terjaga, dan membuat kami terkagum akan kesejukan dan bersihnya udara pagi itu. Nampak beberapa aktivitas penduduk yang mungkin pergi ke ladang untuk mencari rumput untuk makan sapi. Nah, setelah melewati jalan berliku dan turunan yang cukup terjal, akhirnya sampai juga di Pura Dalem Balingkang.

Di setiap pertigaan ataupun perempatan sudah diberi tanda lokasi pura, karena menurut penuturan salah seorang penduduk, bahwa baru saja pada bulan purnama telah diadakan pujawali atau di Bali biasa disebut juga Piodalan yakni upacara persembahan di pura bersangkutan. Nah, begitu mencapai parkir pura untuk sepeda motor, persis disebelah barat menghadap ke timur ada Pura Saraswati. Jadi karena tidak membawa perlengkapan pakaian, kami menghaturkan canang dan bersembahyang dari luar saja, yang mana kami sempat membeli perlengkapan canang di Puncak Penulisan.

Lanjutkan lagi perjalanan, menuju Pinggan, mungkin lebih kurang 1 kilo aja dari pura, nah setelah menemukan tempat berbelanja, istirahat sebentar sambil membeli minum. Kamipun sempat berbincang-bincang dengan pemilik warung tentang keadaan disana. Menurut bapak yang jualan, kalau dulu sejarah disana itu terkait dengan seorang raja yang mempersunting seorang putri dari Cina. Di Desa Pinggan sendiri merupakan sebuah desa adat dengan satu banjar adat yakni Pinggan sendiri. Disana juga ada Sekolah Dasar Negeri Pinggan dan Pura Puseh yang menyatu dengan Bale Agung. Kalau biasanya di daerah saya itu lebih sering disebut Pura Puseh. Waktu itu kebetulan juga ada acara pernikahan di salah satu rumah warga, yang cukup dekat dengan lokasi kami beristirahat. Setelah cukup lama bercengkrama dan menyempatkan sedikit berfoto-foto, kami pun mohon pamit dan segera melanjutkan perjalanan menuju Penelokan Kintamani. Kami memilih melewati desa Songan daripada kembali ke jalan semula, Jadi sambil mengenal lingkungan lebih banyak juga sambil menikmati pemandangan Gunung Batur yang memang luar biasa. Jalanan yang cukup banyak belokan serta turunan yang terjal membuat serasa seperti sebuah jejak petualang. Namun kami harus lebih berhati-hati karena kendaraan yang kami gunakan tidak setangguh dan semewah acara itu. Dengan motor bebek, maka terpaksa Ketut harus rela berjalan kaki sambil lebih dahulu melihat medan, dan saya yang giliran untuk menaiki motor pelan-pelan. Memang rute ini membuat saya tidak banyak pilihan, karena jika mesti dipaksakan berboncengan maka kami takut rem motor tidak cukup kuat untuk menuruni turunan yang sedemikian curam.

Di kiri kanan kami penuh dengan ilalang dan bebatuan, yang mungkin adalah bekas letusan Gunung Batur Purba ataupun Gunung Batur yang sekarang. Sampailah akhirnya pada lembah Batur, dimana daerahnya sudah lebih rata, sehingga perjalanan bisa dilanjutkan dengan lebih nyaman. Dikanan kiri terlihat beberapa perkebunan, yang sistem pengairannya memanfaatkan air Danau Batur, jadi cukup berlimpah dengan air. Setelah sempat menanyakan arah pada beberapa titik persimpangan yang saya temui, akhirnya saya tiba di jalan Toya Bungkah, jadi tidak perlu bingung lagi, sebab pernah beberapa waktu lalu touring juga bareng beberapa teman sambil mandi air panas. Perjalanan melewati route ini adalah perjalanan mengitari Gunung Batur dengan arah lebih kurang 360 derajat, atau mungkin lebih tepatnya mendekatilah. Karena kita memang akan melintas sepanjang kaki Gunung Batur yang waktu itu terlihat ada kain yang mengitari pinggang gunung seperti sebuah ikat pinggang raksasa.

Sesaat sebelum sampai ke puncak Penelokan dari arah pertigaan yang menuju Buahan itu, hujan mulai menyapa kami dengan guyuran yang sedang, terus, sampai akhirnya benar-benar cukup deras persis begitu akan sampai di Penelokan dengan banyaknya tanjakan berbelok yang harus dilewati sambil sempat-sempatnya juga ‘tuk menyapa beberapa truk yang perlahan merangkak menuju Penelokan Kintamani.

Tibalah saatnya beristirahat sejenak, sambil melepas lelah, meskipun sebenarnya kami tidak lelah, karena benar-benar menikmati perjalanan yang penuh ceria, bersama asrinya alam desa di sekitar lembah Batur itu. Masih rintik-rintik itu menetes ketika kami menginjakkan kaki di Penelokan, yang ternyata telah berubah dari ketika beberapa bulan yang lalu saya mampir disana. Benar-benar teratur dan tertata rapi, baik parkir motor maupun dagang-dagang yang dulu sering menjajakan tipat cantok ala Penelokan yang sebenarnya saya ingin rasakan lagi. Setelah mengikuti tangga turun menuju beberapa toko yang memang jualannya persis menghadap ke Gunung dan Danau Batur yang menawan itu, saya sibuk mencari-cari, kemana dagang tipat cantok yang enak itu. Mungkin sudah tidak berjualan lagi, pikir saya pendek. Daripada sibuk memikirkan mengisi perut, akhirnya kami memutuskan untuk menikmati pemandangan luar biasa menakjubkan dari Gunung Batur yang cantik dibalut cemerlang air Danau Batur yang jernih memantulkan muka langit yang berseri-seri, meski mendung pelan-pelan menjauh memayungi puncak Batur bagaikan seorang raja didampingi dayang istana.

Kocokan perut tak kuasa menahan kosongnya, membuat kami segera beranjak mencari sesuap nasi, dan diputuskan untuk menelusuri jalan Kintamani sampai akhirnya mesti berlabuh juga di sebuah kedai soto yang benar-benar menggugah selera. Wah, masakan ini benar-benar menggelitik selera, dengan menu nasi hangat dan soto agak panas, suasana dingin membuat rasa lidah sudah meloncat sebelum sendok sempat saya pegang. Ditemani sebotol teh melati sebagai penutup menu, benar-benar saya dipuaskan oleh menu yang enak ini. Dan, pikir saya, harus segera kembali kapan-kapan untuk menikmati suasana yang jarang ini.

Begitu perut sudah terisi, kami melanjutkan perjalanan menuju kerumah dengan berencana melewati Tampaksiring, jadi kami mengambil jalan lewat Kayuamba. Rencananya adalah singgah sebentar untuk melihat Museum Bung Karno. Nah, setelah melewati Tirta Empul, kami sempet berputar arah ke utara menuju Istana Tampaksiring, karena menurut perkiraan saya museum pasti tak jauh dari Istana Presiden itu. Karena ternyata tidak ada, saya lalu bertanya pada seorang warga yang kebetulan sedang berjualan di warungnya. Ternyata Museum Bung Karno ada di Desa Mancawarna, lebih kurang tiga sampai lima kilometer ke selatan dari Tampaksiring. Pada perjalanan menuju Desa Mancawarna, kami menemukan pemandangan menarik di sebelah kanan jalan, yaitu kami melihat dua buah kereta kencana. Dan ternyata itu adalah Kereta Kencana Raja Majapahit yang ternyata tersimpan di Universitas Mahendradatta cabang Tampaksiring. Disana ada dua kerena kencana, yang satu berwarna merah dan yang lagi satu berwarna kuning. Setelah menyempatkan waktu untuk berbincang-bincang dengan penjaga disana kami diperbolehkan untuk melihat-lihat lebih dekat sambil mengambil sedikit gambar. Wah baru pertama kali melihat kereta Beliau. Sebelumnya cuma dapat membaca di surat kabar saja.

Waktu pun semakin sore, ketika kami melanjutkan perjalanan pulang melewati Museum Bung Karno. Letaknya tidak jauh dari Universitas tempat menyimpan Kereta Raja itu. Untuk memasuki museum dikenakan biaya dua puluh ribu per orang. Setelah melihat-lihat sebentar dari luar, perjalanan pulang dilanjutkan dengan melalui Ubud, dan akhirnya sampai juga di Mambal, guna mampir di warung es di pinggir jalan itu. Waktu menunjukkan pukul enam ketika kami telah sampai ke rumah masing-masing namun penuh perasaan yang luar biasa puas karena perjalanan yang luar biasa panjang namun sangat lancar.

Selesai.

1 komentar:

Dika Bimasana mengatakan...

Keren bli cerita petualangan nya. Btw, gak ada rencana ngetrip lagi bli?

Posting Komentar