12 Sep 2026 By: Gede Astawan

Sejarah Bali Yang Asli, Lengkap, Runut, dan Berdasarkan Bukti Otentik

 Sejarah Bali Yang Asli, Lengkap, Runut, dan Berdasarkan Bukti Otentik

Halo semua berikut aku sajikan sejarah Bali yang lengkap yang berdasarkan pada prasasti yaitu bukti paling otentik (paling terpercaya) dalam mempelajari sejarah. Prasasti bisa berupa lempeng tembaga emas atau perak, atau bisa juga berupa batu bertulis.

Urutan ini murni disusun secara kronologis berdasarkan angka tahun Śāka yang tertulis pada lempengan atau batu prasastinya, yang kemudian dikonversi ke tahun Masehi (ditambah 78 tahun).

Pembagian era atau jaman mengikuti kronologi epigrafi para arkeolog (seperti Goris, Stein Callenfels, dan Poerbatjaraka), dari angka tahun tertua yang pernah ditemukan di Bali sejauh ini. Yuk disimak ringkasan secara urut sejarah Bali berdasarkan bukti tertulis:

  1. 882 M (804 Śāka) — Prasasti Sukawana A I (prasasti berangka tahun tertua di Bali).

  2. 914 M (836 Śāka) — Prasasti Blanjong (nama raja pertama tercatat, Kesari Warmadewa).

  3. 989–1077 M — Era Udayana hingga Anak Wungsu (puncak penggunaan bahasa Jawa Kuno pada prasasti).

  4. 1178–1181 M — Era Raja Jayapangus.

  5. 1343 M — Era transisi ekspedisi Gajah Mada (Kerajaan Majapahit).

Nah, itu kalau diringkas secara singkat jadi seperti di atas. Sekarang kita lihat masing-masing detail dari isi prasasti itu dan juga terjemahan dari masing-masing prasasti tersebut:

1. Era Awal / Prasasti Tanpa Nama Raja (Abad ke-9 M)

Sejarah tertulis Bali dimulai dari lempengan tembaga yang diterbitkan oleh badan pemerintahan Bali Kuno tanpa menyebut nama raja yang memerintah saat itu.

  • Prasasti Sukawana A I (804 Śāka / 882 M): Prasasti ini adalah dokumen tertulis tertua yang memiliki angka tahun pasti. Diterbitkan dari pusat administrasi bernama Panglapuan Singhamandawa. Isinya mengatur perizinan pendirian pertapaan di kawasan Bukit Cintamani (Kintamani) oleh para biksu.

  • Prasasti Bebetin A I (818 Śāka / 896 M): Mengatur desa Bebetin dan menyebutkan struktur profesi masyarakat Bali Kuno saat itu (petani, pengrajin, pedagang) serta badan hukum pemerintahan.

2. Dinasti Warmadewa Awal (Abad ke-10 M)

Nama raja Bali pertama yang tercatat jelas secara epigrafis muncul pada awal abad ke-10.

  • Prasasti Blanjong (836 Śāka / 914 M): Prasasti tiang padas yang ditemukan di Sanur ini diterbitkan oleh Raja Śrī Kesari Warmadewa. Prasasti ini unik karena menggunakan dua bahasa (Sanskerta dan Bali Kuno) serta dua aksara (Pranagari dan Bali Kuno). Prasasti ini menguji keberhasilan militer Raja Kesari atas musuh-musuhnya di daerah Gurun (Nusa Penida) dan Swal.

  • Prasasti Gobleg & Kebon Edan: Mencatat raja-raja penerus seperti Ugrasena (915–942 M) yang mengeluarkan banyak prasasti terkait pembebasan pajak (sīma) untuk desa-desa di pegunungan, serta Raja Tabanendra Warmadewa dan Raja Jayasingha Warmadewa (960 M).

3. Era Hubungan Bali–Jawa (Abad ke-10 hingga 11 M)

Puncak perkembangan politik Bali Kuno terjadi pada era pernikahan politik antara kerajaan Bali dan Jawa.

  • Prasasti Bebetin E (911 Śāka / 989 M) & Prasasti Serai: Dikeluarkan oleh Raja Gunapriya Dharmapatni (putri dari Kerajaan Medang, Jawa) bersama suaminya, Dharmodayana Warmadewa (Raja Udayana). Prasasti pada era ini mulai menggunakan bahasa Jawa Kuno, menandakan masuknya pengaruh Jawa di birokrasi Bali. Dari pasangan inilah lahir putra sulung mereka, Airlangga, yang kemudian menjadi raja besar di Jawa (Kerajaan Kahuripan).

  • Prasasti Bebetin XI & Prasasti Batuan (974 Śāka / 1052 M - 1077 M): Dikeluarkan oleh putra bungsu Udayana, yaitu Raja Anak Wungsu. Ia adalah raja yang paling banyak meninggalkan prasasti di Bali (lebih dari 30 prasasti tembaga). Isinya sebagian besar mengatur tata kelola hukum desa, irigasi sawah (huma), dan pembebasan pajak.

4. Era Dinasti Jaya & Raja Jayapangus (Abad ke-12 M)

Setelah berhentinya dinasti Warmadewa, muncul raja-raja menggunakan gelar Jaya.

  • Prasasti Cikora & Prasasti Terunyan (1178 M–1181 M): Diterbitkan oleh Raja Śrī Mahārāja Hji Jayapangus Arkajadewa. Ia meninggalkan puluhan lempeng tembaga yang mengatur sistem perpajakan, hukum waris, hingga struktur badan keagamaan.

5. Pengaruh Majapahit & Akhir Masa Bali Kuno (Abad ke-14 M)

  • Prasasti Batur Pura Abang A (1233 Śāka / 1311 M): Mencatat masa pemerintahan Raja Maha Guru Śrī Tarunaputra.

  • Prasasti Gunung Kawi (1343 M): Periode ini menandai peralihan politik besar ketika Kerajaan Majapahit di bawah ekspedisi Gajah Mada menundukkan kerajaan Bali Kuno. Prasasti-prasasti pasca-1343 M mencatat pengangkatan raja-raja bawahan (Vassal) dari Majapahit yang berkedudukan di Samprangan dan kemudian Gelgel.

Nah demikian penjelasan lengkap, singkat dan jelas dari alur sejarah Bali yang berdasarkan bukti tertulis yaitu prasasti dan bukan berdasarkan cerita tutur maupun babad. Ingat kalau mau belajar sejarah itu harus mengutamakan bukti primer dulu, baru bukti skunder, dan bukti tersier sebagai pilihan terakhir kalau dua bukti sebelumnya tidak ada.

0 komentar:

Posting Komentar